Commuter line: kebutuhan akan sebuah keteraturan

Disclaimer: apa yang tertulis dalam blog ini adalah murni pendapat saya sebagai pengguna Commuter Line dan penduduk Jakarta. Tidak bertujuan untuk menguntungkan pihak mana pun.

Dinamika Commuter Line

mtf_Hrpip_172[1]Istilah ‘Commuter Line’ sendiri baru diperkenalkan kepada masyarakat luas pada hari Sabtu, 18 Juni 2011. Pada saat itu masyarakat yang belum familiar merasa agak bingung dengan diperkenalkannya istilah ini. Saya adalah pengguna kereta yang cukup rutin sejak tahun 2006 hingga saya lulus dari IPB pada tahun 2010. Pada saat itu, kita mengenal 3 jenis kereta Jakarta – Bogor:

  • Ekonomi – harga Rp. 2,000 tanpa AC, tanpa pintu, berhenti di semua stasiun kecuali Stasiun Gambir.
  • Ekonomi AC – harga Rp. 5,500 dengan AC, dengan pintu, berhenti di semua stasiun kecuali Stasiun Gambir.
  • Pakuan Express – harga Rp. 13,000 dengan AC, dengan pintu, dengan prioritas pertama jika kereta bentrok di Manggarai atau Pasar Minggu, berhenti hanya di Stasiun Bogor, Gambir, Juanda, Cikini, Gondangdia, langsung Stasiun Jakarta-Kota.

Seiring dengan berjalannya waktu, KAI mulai melakukan pembenahan. Bersamaan dengan diluncurkannya Commuter Line sebagai nama lain KRL Ekonomi AC, Pakuan Express pun dihapuskan. Pada saat itu, saya telah lulus kuliah dan menetap di Jakarta. Saya sangat merasa bersyukur dengan kenyataan bahwa saya sudah lulus karena saya tidak bisa membayangkan bagaimana harus berdesak-desakan bersama ribuan pengguna KRL lain setiap harinya dan KRL yang harus berhenti di setiap Stasiun.

Hari ini, lebih dari dua tahun sejak diperkenalkannya Commuter Line, KAI berinisiatif merubah harga tiket dengan sistem progresif. Pada waktu awal KAI mensosialisasikan harga tiket yang baru, dijelaskan bahwa untuk lima stasiun pertama akan dikenakan tarif sebesar Rp. 3,000 dan untuk setiap tiga stasiun berikutnya sebesar Rp. 1,000. Namun ternyata, pemberlakuan tarif progresif dibarengi dengan pemberian subsidi pemerintah melalui PSO (Public Service Obligation) sehingga tarif untuk lima stasiun pertama menjadi Rp. 2,000 dan setiap tiga stasiun berikutnya dihargai Rp. 500 saja.

Saya dan Commuter Line

Sejak awal mendengar bahwa KAI akan memberlakukan tarif progresif saya sudah menyambut baik. Sebelumnya, setiap hari saya berangkat ke kantor menggunakan kendaraan pribadi, dari rumah di daerah Taman Sari (daerah Pasar Baru) ke kantor yang berlokasi di daerah Kuningan. Saya sempat bertanya ke beberapa teman bagaimana saya bisa menyambung dari Stasiun Cikini ke daerah Kuningan dengan kendaraan umum yang relatif nyaman.

Pada dasarnya saya ini orang yang tidak mau ribet dan tidak mau susah. Mahal sedikit tidak apa-apa asal nyaman dan cepat sampenya. Dan saya memilih berkendaraan pribadi karena jarak dari rumah ke kantor yang tidak terlalu jauh dan sedikit saja terkena macet. Akhirnya, walaupun harga tiket commuter waktu itu masih Rp. 7,500 saya coba beberapa kali naik commuter ke Stasiun Cikini dan disambung dengan Kopaja AC P20 dengan harga Rp. 5,000.

Pagi ini saya terbangun dan membaca beberapa tweet teman-teman yang sudah berangkat lebih pagi dari saya dan menggunakan kereta, mulai dari antrian super panjang untuk mendapatkan tiket single trip, sampai jadwal kereta yang terlambat. Saya berangkat sedikit lebih pagi untuk menghindari terlambat sampai kantor, dan ternyata begitu sampai di peron… benar saja, jumlah manusia yang saya temui jadi lebih banyak. Entah karena jadwal kereta yang berantakan, sistem baru, atau harga commuter line yang kini menjadi lebih murah yang menjadi penyebabnya. Yang pasti saya lumayan bersyukur tidak perlu ikut mengantri tiket single trip karena saya sudah memiliki tiket multi trip sejak beberapa hari sebelumnya.

Antrian panjang sempat terjadi di pintu keluar Stasiun Cikini. Dari sekitar 8 pintu yang beroperasi, 6 pintu digunakan sebagai pintu keluar dan 1 pintu sebagai pintu masuk stasiun namun antrian panjang masih tetap tidak terhindarkan.

Semua berawal dari sini…

Lalu, apa yang membuat saya tertarik untuk menulis blog ini berawal dari sini🙂 Begitu sampai di kantor, salah seorang rekan kerja pengguna Commuter Line sedang berdiskusi dengan suara yang lumayan kencang dan membuat saya tertarik buat mencuri dengar. Argumentasi yang disampaikan oleh Ibu L ini adalah bahwa dia tidak suka kereta yang biasanya dia naiki agak sepi ini sekarang harus berdesak-desakan karena harganya yang lebih murah. Beliau menyampaikan jika mungkin ini adalah modus yang digunakan PT. KAI untuk menarik masyarakat menggunakan kereta lalu kemudian antara menurunkan pelayanan atau menaikkan tarif perlahan. Terlihat dari tumpukan penumpang yang terjadi hari ini karena keterlambatan kereta.

Sekali lagi, sebelum saya menuliskan argumentasi saya di sini, saya ingin meminta kedewasaan Anda para pembaca bahwa tulisan saya tidak bermaksud membela pihak manapun. Ini murni adalah opini saya sebagai pengguna Commuter Line dan warga Jakarta yang merindukan memiliki moda transportasi yang nyaman.

PROS

Pertama, saya memandang kebijakan KAI untuk memberlakukan tarif progresif ini adil. Orang diminta membayar sesuai dengan jarak yang mereka tempuh. Ini masuk akal bukan? Orang belum terpikir untuk menggunakan kereta di dalam kota Jakarta salah satunya adalah karena tarifnya yang lumayan mahal. Untuk jarak jauh dan dekat, dipukul dengan satu harga tiket. Dari rumah saya ke Stasiun Cikini, sebelumnya saya harus membayar Rp. 7,500. Lumayan kan, bisa untuk pulang pergi naik Trans Jakarta. Sekarang, dengan diberlakukannya tarif progresif, harga tiket yang saya keluarkan menjadi jauh lebih murah, saya hanya perlu membayar Rp. 2,000 saja. Plus nilai tambahnya saya tidak perlu macet-macetan di jalanan ibu kota – stress free😀 *sumringah*

CONS

Di satu sisi, dengan diberlakukannya sistem elektronik tiket oleh KAI, membuat satu orang minimal membutuhkan waktu +/- 2 detik untuk masuk dan keluar. Ini pun belum tentu seseorang bisa langsung berhasil memasukkan kartunya ke dalam mesin pada saat keluar. Hal ini menjadikan waktu yang dibutuhkan untuk keluar bisa menjadi +/- 5 detik per orang. Bayangkan jika ada minimal 20 antrian di depan Anda, waktu perjalanan Anda menjadi lebih lambat 100 detik daripada waktu biasanya yang Anda butuhkan. Tapi kekurangan ini pun bukan tanpa solusi, berangkatlah lebih awal untuk menghindari issue teknis seperti ini.

Lalu…?

Seperti layaknya sebuah sistem baru yang diperkenalkan atau diterapkan, tidak akan pernah bisa berjalan langsung mulus tanpa protes atau kritik-kritik pedas. Toh karena kritik inilah seseorang atau sesuatu itu bisa menjadi lebih baik lagi. Saya juga tidak sepenuhnya memaklumi PT. KAI yang hari ini lalai mengantisipasi membludaknya pengguna KRL dengan sumber daya yang memadai, entah dari jumlah loket yang dibuka atau sosialisasi yang diperlukan sebelum sistem ini benar-benar dijalankan, karena beberapa orang nampak masih cukup kebingungan dengan sistem baru ini. Bahkan ada beberapa orang yang tidak bisa melewati penjagaan karena tiketnya untuk sampai Depok Lama sementara ybs turun di Pondok Cina.

Namun di satu sisi saya juga tidak bisa menyetujui beberapa pendapat skeptis yang menyesalkan tiket kereta yang semakin murah sehingga lebih banyak orang bisa memanfaatkan moda transportasi ini. Kereta itu seharusnya menjadi moda transportasi massal. Dari kata massal sendiri, seharusnya moda transportasi ini bisa bersifat umum dan dapat dimanfaatkan secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan kabar hilangnya subsidi terhadap bahan bakar minyak, dan beberapa operator transportasi umum seperti angkot dan kopaja mulai secara sepihak menaikkan tarif mereka, bukan hanya si mampu saja yang membutuhkan sarana transportasi yang memadai.

Mungkin mudahnya bisa Anda bayangkan orang-orang dengan upah per hari berkisar antara Rp. 10,000 – 20,000 setiap harinya yang membutuhkan kereta ekonomi dengan harga Rp. 2,000 rupiah untuk sarana transportasi sehari-hari mereka, bayangkan jika mereka harus membayar Rp. 8,000 untuk transportasi hanya sekali jalan… Transportasi ini seharusnya bisa menjawab keresahan semua masyarakat kita yang merindukan sebuah model transportasi umum yang nyaman, cepat, dan terjangkau. Melihat BTS (Thailand), LRT (Malaysia), MRT (Singapore) pun tidak ada bangku sofa dan kita juga harus berdesak-desakan di dalamnya, tapi dengan jadwal yang tepat dan cepat, membuat orang puas dengan pelayanan tersebut.

Saya cukup merasa senang saat pemerintah saya melakukan suatu dobrakan terhadap sistem lama dan menunjukkan bahwa mereka mencari solusi untuk permasalahan masyarakatnya. Dan sebagai masyarakat yang merindukan perubahan yang positif, saya sangat senang mengetahui bahwa pihak-pihak terkait berusaha melakukan trobosan tersebut untuk memulai langkah awal ke arah yang lebih baik. Saya hanya berharap, PT. KAI bisa membuktikan komitmen mereka untuk sebuah perubahan. Harga tiket yang semakin terjangkau memang bisa dimanfaatkan sebaiknya dengan tidak menurunkan tingkat pelayanan untuk semua. Kita telah lama merindukan sebuah keteraturan dalam bertransportasi. Semoga Commuter Line ini adalah awal yang baik untuk menuju ke sana.

Mereka telah mencoba untuk melakukan sesuatu, dan tugas kitalah sekarang untuk mengawal perubahan itu supaya tak hilang arah…

2 thoughts on “Commuter line: kebutuhan akan sebuah keteraturan

  1. Hari ini antrian salah satunya di Loket Pembelian Tiket, dengan harga tiket yg waktu uji coba e-ticket cenderung sama sehingga mudah memberikan kembalian saja terjadi antrian panjang, apalagi ketika tarif progresif diberlakukan, petugas loket cenderung lama & susah ngasih kembalian.

    • Somehow ya, Ziz, gw merasa lebih prefer ada mesin untuk beli tiketnya. Sama kaya di Malaysia atau Singapore loket itu cuma berfungsi buat nukerin uang kecil. Harusnya jadi lebih cepet. Oke, mungkin awal-awal orang perlu belajar cukup lama buat mengoperasikan mesinnya, tapi at least mesin gak butuh waktu terlalu lama buat menghitung kembalian..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s