Mengapa ‘luar negeri’ (tidak) selalu lebih baik?

Saya baru beberapa minggu meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi di Belgia. Jika lancar, ini akan menjadi pengalaman saya yang paling lama berada di luar Indonesia. Selama studi S1 dan bekerja, saya beberapa kali mendapat kesempatan untuk keluar dari Indonesia namun tidak dalam hitungan tahun.

Keinginan saya untuk menuliskan cerita ini datang saat saya sedang dalam perjalanan menuju kampus. Di sini, saya pulang dan pergi ke kampus dengan menggunakan sepeda. Ada satu bagian dari perjalanan saya menuju kampus yang selalu saya sukai, yaitu saat melewati Albertkanaal. Albertkanaal adalah sebuah kanal yang dibuat sekitar tahun 1930 – 1939 dan mengambil nama dari Raja Albert I. Albertkanaal bukanlah kanal yang besar, ia hanya mampu menampung beban maksimal 10,000 ton. Jauh bila dibandingkan dengan kanal di Rhine atau Danube.

Namun setelah saya menanjak dengan susah payah untuk tiba di jembatan yang membelah Albertkanaal, saya dapat menikmati pemandangan indah di sepanjang Albertkanaal. Deretan pohon yang sepanjang musim gugur terlihat cantik karena perlahan mulai berubah warna, atau kapal yang kebetulan melewati, atau wind farm yang masih bisa saya lihat dari kejauhan.

Suatu sore setelah pulang dari kampus, saya melewati jembatan dan menemukan matahari yang cantik disebelah kiri saya. Saya menyempatkan diri untuk menghentikan kayuh sepeda saya, dan mengambil beberapa gambar dengan menggunakan kamera dari telepon genggam.

Lantas saya berpikir: Belgia lebih cantik dari Indonesia?

Saya rasa tidak… Untuk saya tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Indonesia. Tapi tentu saja kalimat saya tersebut akan mudah terbantahkan. Karena perasaan saya tentu sama seperti seorang ibu yang merasa anaknya paling cantik / ganteng di dunia. Rasa kepemilikan atas Indonesia membuat saya merasa tidak ada yang bisa menggantikan kecantikan Indonesia untuk saya.

Namun sedihnya, hanya dalam waktu sekitar dua minggu saya sudah punya puluhan foto-foto cantik dari kota-kota di Belgia. Saya cukup yakin dalam waktu dua tahun saya akan punya ratusan foto cantik Belgia dan negara-negara Eropa lainnya yang jumlahnya kelak akan mengalahkan foto-foto cantik yang saya dapatkan di Indonesia.

Kecantikan itu berubah menjadi biasa saja.

Mengapa begitu? Saya lahir dan besar di Jakarta. Selama 24 tahun saya di Jakarta, mungkin saya hanya punya beberapa puluh foto-foto yang menggambarkan keindahan kota Jakarta. Karena saya sudah dari lahir tinggal di sana, saya melewatkan hal-hal yang seharusnya bisa saya apresiasi. Sepanjang perjalanan pulang dari kantor, tidak pernah saya berhenti sejenak untuk melihat ada hal indah apa yang di sekitar saya saat itu.

Sementara di sini, semuanya begitu baru buat saya. Sehingga saya memperhatikan lebih pada hal-hal yang saya temui.

Yang saya sedihkan kini setelah berada di sini adalah betapa seringnya saya mendengar orang saat datang dan berada di tempat yang bagus di Indonesia lalu berkata: ‘waaah, bagus ya kaya di luar negeri!’

Mengapa yang bagus itu harus punya luar negeri bukan punya kita? Mengapa pepaya Callina yang merupakan varitas pepaya unggul hasil temuan Prof. Sriani Sujiprihati lebih menjual saat berubah nama menjadi pepaya California? Mengapa orang-orang memilih berbahasa inggris walaupun acak-acakan daripada berbahasa Indonesia yang sepatutnya saat di muka umum?

Generasi muda, berangkatlah ke luar negeri! Lihatlah luar negeri… Jangan hanya berbelanja ke sana kemari, check in di semua media sosial, atau update foto di depan taman A, patung B. Lalu, kembalilah ke Indonesia dan lihatlah seberapa kaya negeri kita. Agar kata ‘luar negeri’ tak hanya menjadi sebatas khayalan tentang sebuah negeri di mana segalanya pasti lebih baik dari negeri kita sendiri.

3 thoughts on “Mengapa ‘luar negeri’ (tidak) selalu lebih baik?

  1. ka baru skali ke luar negeri. kmaren, pas ke brisbane. dan dalam satu kunjungan k satu tempat saja, ka yakin bahwa Indonesia itu Surga… gada pantai yg ngelebihin pantai di lombok dan daerah indonesia lainnya. atau gunung yg lebih hebat dari gunung semeru dan gunung2 indonesia lainnya. even ka lebih menyukai pengalaman naek kereta ekonomi dulu, ktimbang pas pake kreta di ausie. memang ada beberapa hal yg bikin argumen2 itu terbantahkan. tapi, i think i falling love (again) to Indonesia.

    “disana, tempat lahir beta…dibuai, dibesarkan bunda…
    tempat berlindung dihari tua…sampai akhir menutup mata”

    D! i luv indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s