When a social media just stops at ‘my’ media

Beberapa minggu yang lalu, saya menon-aktifkan salah satu media sosial saya. Jauh sebelum akhirnya saya memutuskan untuk menon-aktifkan akun saya, saya mengambil beberapa saat untuk berpikir kontribusi positif macam apa yang bisa saya berikan melalui akun saya di Path. Hampir setahun sejak saya berkomitmen kepada diri saya sendiri bahwa media sosial saya harus bisa memberikan kontribusi positif untuk orang lain. Saya bukan aktivis sosial dan bahkan saya belum banyak melakukan hal-hal besar untuk sesama, tapi saya ingin bagian terkecil dalam diri saya bisa memberikan kontribusi positif untuk orang lain.

Akun instagram saya telah lama saya miliki sampai akhirnya saya memutuskan saya ingin menggunakan akun instagram saya untuk mempromosikan keindahan Indonesia, negara saya melalui foto-foto yang saya tangkap selama perjalanan saya. Namun karena sejak akhir September kemarin saya tidak lagi bertempat tinggal di Indonesia, saya terus membagikan hasil foto-foto saya (walaupun saya bukan fotografer profesional) supaya teman-teman bisa ikut melihat dunia dari apa yang saya lihat.

Berbeda halnya dengan laman Facebook saya di mana untuk saya ini cukup personal di mana saya bisa membagikan pemikiran dan opini saya dengan lebih mendalam, berbagi cerita melalui gambar dengan rekan dan keluarga di Indonesia dan belahan dunia lain. Ini salah satu alasan saya sedikit menutup akun Facebook saya sehingga tidak semua permintaan pertemenan bisa saya terima. Saya sangat mengandalkan akun facebook saya untuk mengkampanyekan hal-hal positif atau hal sensitif yang butuh perhatian kita.

Sedikit berbeda dengan twitter di mana saya menjadikan ini sebagai area untuk publik. Siapa saja bisa mengikuti pesan yang saya kirimkan, bisa saling berbagi pemikiran, dan terkadang saya menjawab pertanyaan yang cukup umum sehingga siapa saja mudah-mudahan bisa terbantu dengan akun tersebut.

Hal yang tidak bisa saya temukan di akun Path saya. Saya melihat cerita yang dibagikan oleh teman-teman di Path dan saya merasa sedih karena ‘kampanye’ saya tidak akan bergaung di situ. Orang-orang lebih tertarik berbagi tempat di mana mereka berada sekarang tanpa memberikan masukan apa yang bisa Anda nikmati di situ. Memamerkan sepatu, baju bagus, perhiasan baru, lelucon-lelucon bodoh. Tidak ada yang peduli dengan kampanye yang saya lakukan.

Saya merasa media sosial berhenti fungsinya menjadi media saya. Media untuk memamerkan apa yang saya punya tak peduli apakah itu bisa memberikan dampak positif atau justru semakin menjauhkan si kaya dan si miskin.

Saya memahami penuh bahwa setiap orang memiliki pemikiran dan pertimbangan masing-masing tentang apa yang ingin mereka lakukan dengan akun-akun media sosial mereka. Saya pun memahami bahwa ini menjadi hak mereka sepenuhnya untuk berbagi hal-hal apa saja yang mereka inginkan. Jadi bukan salah mereka saat saya tak menemukan hal positif apa yang bisa diambil dari memiliki akun-akun sosial ini.

Saya sangat sedih saat melihat gejala ini menjadi sangat mengkhawatirkan. Semua berusaha untuk menjadi bagian sosial dengan ingin terlihat keren. Menjadi bagian dari kebanyakan orang dengan memamerkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk ke salon setiap hari, membeli tas ratusan juta, membeli mobil baru, memamerkan kaki yang bertelanjang menghadap ke pantai atau kaki yang kini terbungkus sepatu seharga jutaan.

Saya sangat sedih saat melihat bahwa gejala yang tadinya hanya diperlihatkan segelintir orang, kini mulai menular ke lebih banyak anak muda melalui akun media sosial. Saya sedih karena lama-kelamaan manusia tak lagi dinilai dengan apa yang mereka punya di hati dan di otak tapi apa yang mereka pakai di badan, tangan, kaki.

Saya sangat sedih membayangkan anak-anak di masa mendatang tak lagi berbangga kan luasnya pengetahuan mereka tetapi karena mahalnya pakaian atau perhiasan yang mereka kenakan.

Namun di satu sisi saya senang saya tau saya tak sendiri melawan hedonisme ini. Saya tau ada banyak teman-teman saya yang hidupnya berisi perjuangan supaya anak-anak punya bahan bacaan yang layak dan kegiatan yang positif, saya tau teman-teman saya sedang bergerilya untuk memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak tak mampu dari sabang-merauke saat kaum hedonis ini berpura-pura peduli tentang isu sosial saat mereka hanya memasang status ‘sedih/prihatin’ di akun media sosial mereka. Saya tahu banyak teman-teman yang masih peduli dan bergerak dalam diam tanpa mengandalkan media-media sosial.

Saya senang karena tahu bahwa saya tak sendiri🙂

9 thoughts on “When a social media just stops at ‘my’ media

  1. Dea, put this in your mind, nothing you can do to make people to follow you , everyone have they own mind , if you doing something good and you do help your friend , they not going to appreciate what you done , sometime comeback to you with a bitter taste , but look at the positive
    think can go , some small part of it will take as a treasure and see the way you guide them , that small part is make your feeling better , when you do something good to someone , not the same person will pay back to you , but someone else , may be not the one you knows , will pay you back someday , that what I feel and my experience after live in the world for 60 years and have all kind friend , from bad to good and the truth friend, don’t gave up , there is some point they will see what you done , may be not now , but take sometime to show up……..

  2. Hai Mlle.! Nice blog! ^^ gw jg ngalamin hal yg sama dgn socmed. Lama2 bikin pusing, trs rasanya pingin nyortir timeline yg masuk.mgkn tutup account solusi yg bgs heheheheheeh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s