Awalnya kita terbuai, lalu lupa…

Lama kita terbuai sebagai bangsa yang luhur, yang berbudi pekerti, santun, ramah. Entah sejak kapan predikat tersebut hanya terasa sebagai sebuah dongeng untuk saya.  Sudah muak rasanya saya mendengar kata-kata yang terlontar dari segelintir orang Indonesia yang meneriakkan kata anti pada kekafiran, kapitalisme. Saat ada tokoh yang mengemukakan pikirannya yang bebas dan lebih moderat dari sebagian pandangan yang berlaku umum, dengan mudah beliau mendapatkan julukan sebagai antek Yahudi, Freemason, antek asing, kafir. Saat ketidaksepahaman tidak lagi melahirkan diskusi atau tulisan-tulisan cerdas, melainkan hanya caci yang terucap.

Pagi ini saya membaca sebuah tautan yang saya dapatkan dari Facebook berjudul: Kisah Mahasiswa Tunanetra Indonesia dengan Sopir Bus di Adelaide. Jaka Ahmad, mahasiswa tunanetra asal Indonesia yang kini tengah melanjutkan studi di Universitas Flinders, Adelaide mengisahkan bagaimana beliau begitu merasa diperlakukan sebagai manusia oleh salah seorang sopir bus di Adelaide. Komentar yang masuk kebanyakan berisi kekaguman. Lantas saya berpikir jika kemudian hal seperti itu dipandang sebagai hal yang mengagumkan, tidakkah kemudian moral kita yang harus mulai dipertanyakan? Tidakkah memang sudah seharusnya manusia saling menjaga satu sama lain, untuk sebuah alasan paling mendasar:  rasa kemanusiaan, bukan karena materi semata?

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk berwisata ke Fiji. Sebelum memulai perjalanan, seperti biasa Mas H yang suka terobsesi dengan informasi mulai mencari tahu apa sih Fiji itu. Apa saja masalah-masalah sosial politik yang berkembang di Fiji. Kami tahu bahwa ternyata kondisi politik di sana tak bedanya dengan kondisi politik di Indonesia yang masih tidak stabil. Ketidakseimbangan sosial masih sangat bisa dilihat dan dirasakan. Gejolak politik sangat terasa pada ketidakstabilan ekonomi mereka yang sebagian besar bersumber dari pariwisata dan industri gula.

The Fijian smile that I want to remember

The Fijian smile that I want to remember

Saat menginjakkan kaki di sana, saya bersiap menghadapi penipuan terhadap wisatawan seperti yang umum terjadi di negara-negara berkembang. Saya bersiap untuk rasa tidak aman yang mungkin dirasakan wisatawan. Hari ketiga kami di sana, saya dan Mas H memutuskan untuk pergi ke kota (karena tempat kami menginap ada di negeri antah berantah hehehe..) dengan menggunakan bus lokal, dibanding dengan menggunakan taksi. Saat perjalanan menuju tempat menginap, saya melihat beberapa bus lokal lewat dengan kaca jendela terbuka layaknya kopaja di Jakarta. Lagi saya bersiap mungkin saya tidak perlu membawa barang-barang yang mencolok.

Kami menunggu di halte lalu kemudian bertemu dengan salah seorang karyawan yang bekerja di tempat kami menginap yang kebetulan juga hendak menuju pusat kota Sigatoka. Saya menanyakan tarif yang harus saya bayar karena takut mungkin setelah mengetahui kami turis, kami diberikan harga yang jauh berbeda dengan harga lokal. Saat naik bus, saya melihat sekeliling, terlihat pandangan kaget karena ada orang naik bus lokal tapi tidak berwajah lokal. Tidak ada hal yang aneh, semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Saat kondektur menghampiri dan menanyakan tujuan kami, kami diberi karcis yang sudah tertuliskan harga tarif, FJD 2.7.

Fiji 1

Tidak ada masalah sampai kami tiba di kota. Kami berhenti di salah satu pasar tradisional mereka. Setelah makan dan berkeliing sebentar, kami menunggu di tempat yang sama untuk menaiki bus kembali ke tempat kami menginap. Mas H menghampiri salah seorang kondektur untuk menanyakan apakah bus tersebut berhenti di tempat kami menginap. Setelah memastikan kami menaiki bus tersebut. Harganya lebih murah, hanya FJD 4.3 untuk kami berdua dan bus kali ini tertutup dan dilengkapi AC. Di dalam bus, saya harus duduk terpisah dengan Mas H karena kondisi bus yang padat. Saya duduk bersebelahan dengan seorang perempuan lokal yang berbahasa Inggris dengan bagus. Dia tersenyum pada saya, “Where are you going to?” Saya menjawab, “I have to stop in front of Fiji Hideaway. Does this bus stop at Hideaway?”

Lalu dia kembali menjawab, “Yes”

“Are you going until Suva?”

“Yes, I am.”

Saat kondektur lewat untuk mengecek tiket kami, Mas H sempat berpesan pada kondektur untuk memberitahu kami saat kami tiba di Hideaway. Karena sudah malam kami tidak bisa melihat jalan di sekitar dan lingkungan tersebut masih asing bagi kami.

Saat bus berhenti di Hideaway, kondektur meneriaki kami, “Hideaway!”

Saya sudah beranjak turun saat perempuan yang duduk di sebelah saya melemparkan senyum sambil berkata, “Good bye.” Saya membalas senyumnya sambil berkata, “Nice to see you”.

Saat kembali ke Australia, saya bertemu beberapa teman yang mengetahui bahwa kami berwisata ke Fiji dan menanyakan bagaimana Fiji. Saya berkata dengan penuh semangat, “They are very nice and lovely!” Sungguh! Di sana saya bertemu dan berinteraksi dengan penduduk lokal, saya merasakan kehangatan mereka merasuk ke saya. Sudah lama rasanya saya merasakan keramahan yang penuh dengan kesantunan bahkan di negara saya sendiri di mana saya banyak mendengar puja puji akan keramahan orang Indonesia.

Kehangatan orang-orang Fiji yang begitu mempesona saya sampai pada cerita yang saya baca pagi ini bagaimana terharunya mahasiswa Indonesia yang diperlakukan dengan santun oleh salah seorang supir bus di Adelaide membuat saya berpikir sudah berapa lama kita terbuai akan cerita sebuah negeri yang ramah, luhur, penuh dengan kearifan lokal lalu pada akhirnya kita lupa untuk menjadi seperti itu. Yang saya ingat hanya jeritan sekelompok orang-orang berkedok agama yang menajiskan orang-orang yang memiliki pemahaman berbeda dengannya. Bagaimana saya sebagai anak keturunan Cina sudah harus terbiasa mendapatkan perlakuan tidak adil atau cemoohan sebagai seorang ‘amoy’ dari orang-orang tidak dikenal. Bagaimana saat Ibu saya bercerita saat satu kali berbelanja ke pasar sambil membawa adik saya yang berjilbab lalu orang memandang Ibu saya dengan pandangan mencemooh sampai Ibu saya harus berkata, ‘Ini anak saya’ dan membuat Ibu tersadar bahwa bahkan di masa kini, khalayak ramai masih belum ramah akan sebuah perbedaan.

Semoga ada yang membangunkan saya suatu hari nanti dan membuat saya tersadar bahwa ini hanya sebatas mimpi saya bahwa budaya keramahtamahan kami telah pudar dan lama terlupakan.

3 thoughts on “Awalnya kita terbuai, lalu lupa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s