Live an Unplanned Life

Live an Unplanned Life

Tanpa terasa, masa studi saya di Belgia akan segera berakhir bulan September tahun ini. Semua perasaan bercampur aduk: sedih, senang, khawatir, takut.. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya harus memaksa diri saya untuk hidup tanpa rencana. Mungkin untuk sebagian orang tidak memiliki rencana bukanlah masalah yang besar, tapi tidak untuk saya. Mulai dari merencanakan hal yang sederhana untuk seminggu, sebulan, setahun, bahkan untuk jangka yang lebih panjang. Sebagai seorang statistisi saya sadar bahwa rencana saya tidak harus berjalan lancar dan mulus, saya menyediakan ruang dan menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan jika rencana saya terjadi di luar perkiraan. Tidak masalah… Selama saya punya pegangan setiap hari, rencana saya.

Unexpectedly, my study period in Belgium will soon be over by mid of September this year. My feelings are all mixed up: sometimes sad, happy, worry, afraid. And for the first time in my life, I have to force my self to live without any plan. Maybe for some people, to live without any plan is not a big deal, but it is not for me. I like to make a plan in my life. For a week, a month, a year, even for a longer period. As a statistician, I am fully aware that my plans do not always have to go as it has to. I always give my self room for any possibilites that I can’t predict. It’s definitely not a problem… As long as I have plans to hold on to every single day.

Namun untuk kali ini, hidup memaksa saya untuk menyerah bahwa saya sama sekali tidak memiliki rencana jangka panjang. Jujur, ketakutan terbesar saya adalah untuk pulang. Terdengar aneh.. Saya juga berpikir seperti itu. Saya tidak rindu pulang. Bukan berarti saya tidak rindu akan keluarga, teman-teman dekat di mana segala sesuatu terasa begitu ringan saat berada bersama mereka. Ada tempat untuk berbagi, ada sahabat yang menanti. Untuk saya saat ini, saya merasa belum saatnya saya pulang. Saya masih haus mencari ilmu, saya masih ingin menggali lebih dalam apa yang saya lakukan saat ini, saya masih ingin mendapatkan banyak hal sebelum saya memutuskan untuk pulang.

But for this time, life forces me to give up on making a long term plan. Honestly, my biggest fear at the moment is to go home. Sounds weird, doesn’t it? So do I think. It’s not that I’m not missing home. It doesn’t mean that I’m not missing my family, dearest friends where everything always seems easier when they are around. There is a place to share, dearest friends who wait. For this time, I don’t feel like going home. Yet… I still need sometime to feed my thirst of knowledge, digging deeper, and to get as many as possible before I finally decide to go home oneday.

Bahkan saya takut untuk mengakui bahwa saya jatuh cinta. Saya takut karena saya tidak tahu apa saya bisa berbuat sesuatu untuk itu. Apa kami bisa merencanakan masa depan saya dengan dia saat saya sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup saya ke depannya.

Even, I’m so afraid to admit that I’m falling in love. I’m afraid since I have no idea if I can work on it. If we can plan a future for us, for I have no idea how my life is going to be.

Saya tidak tahu apa yang membuat saya begitu takut sekarang. Menjadi dewasa kah yang menakutkan atau proses menjadi dewasa yang membuat kita tidak lagi sekeras kepala dulu dan menjadi lebih hati-hati untuk melangkah?

I have no idea what makes me feel so afraid now. Being an adult or facing the process to be what so called an adult that is frightening? The process that makes us less stubborn and be more careful in every single step we take.

Ada saatnya di mana hanya mimpi-mimpi buruk yang menghampiri. Ada saatnya di mana saya ingin berteriak sekeras-kerasnya hanya untuk melepaskan segala kepenatan.

There are times when only nightmares come. There are times when I really want to scream my lungs out only to let my weariness go away

Tapi bukankah ini hidup yang telah saya pilih?

But, isn’t it the life that I’ve chosen? 

A person becomes old when his mind is more occupied by memories than aspirations – Navin Kulkarni

One thought on “Live an Unplanned Life

  1. Hi, DeaR…
    Ga tau kenapa abis baca ini rasanya pengen loncat ke Belgie trus peluk lo, ngobrol di atap lagi, nyanyi2, cerita2… Tapi skrg malah cuma bisa mendoakan dari jauh, semoga Tuhan menunjukkan jalan terbaik buat lo. Semangat Ociiin!! Tepok dada and bilang “aal iz well, aal iz well, aal iz well” hahaha… 😘 miss you 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s