The beautiful story of Lili Elbe

lili-elbe

Courtesy of: filmmunch.com

The Danish Girl (2015) is a fictitious story adapted from David Ebershoff’s book of the same name, which is loosely inspired by real-life Danish artists and couple Einar Wegener/Lili Elbe and Gerda Gottlieb. The film fashions itself as a love story between Einar/Lili and Gerda, who together must confront and evolve as Einar undergoes gender re-assignment surgery to become a woman. Yet, as is often the case, the true story of Gerda and Einar/Lili is more poignant than the fiction itself.

The Danish Girl (2015) adalah sebuah cerita fiktif yang diangkat dari novel karya David Ebershoff dengan judul yang sama. Cerita ini diangkat dari kisah inspiratif pelukis sekaligus pasangan suami-istri berkebangsaan Denmark Einar Wegener/Lili Elbe dan Gerda Gottlieb. Cerita dari film itu sendiri dibuat dengan mengangkat perkembangan kisah cinta antara Einar/Lili dengan Gerda di tengah-tengah proses perubahan fisik Einar yang memilih untuk melakukan operasi transgender untuk menjadi seorang perempuan yang utuh. Meskipun demikian, kisah nyata antara Gerda dan Einar/Lili jauh lebih tragis dibandingkan kisah fiktif yang diangkat dalam film tersebut.

[SPOILERS AHEAD]

The story sets in Copenhagen, Denmark in the early 1900s when trans individuals like Laverne Cox (Orange is the New Black series) and Caitlyn Jenner had not yet seen publicly. But at that time, Denmark did have Lili Elbe (born Einar Wegener) who believed that she was actually a woman born into what appeared to be a man’s body. These two individuals — a man and a woman — battling for supremacy that eventually marked by  Lili’s win. “I am finished,” Einar wrote in her journal in February 1930.

Kisah ini berawal di Kopenhagen, Denmark pada awal tahun 1900-an di mana pada saat itu, belum ada tokoh seperti Laverne Cox (dari serial Orange is the New Black) ataupun Caitlyn Jenner yang turut mengangkat perhatian terhadap kaum LGBT ke publik. Namun saat itu, Denmark memiliki tokoh bernama Lili Elbe (lahir sebagai Einar Wegener) yang percaya bahwa ia terlahir sebagai seorang perempuan namun berada dalam tubuh laki-laki. Kedua individu ini saling bertarung dan diakhiri dengan kemenangan Lili. “Sudah selesai,” tulis Einar dalam jurnalnya pada Februari 1930.

Einar underwent one of the first recorded gender reassignment surgeries back in 1930 in Dresden, Germany. After transitioning, Lili legally changed her name to Lili Ilse Elvenes (“Lili Elbe”). It is possible that she was a hermaphrodite or an intersex person, although it is not confirmed.

Operasi transgender yang dilalui Einar pada tahun 1930 di Dresden, Jerman merupakan operasi pertama yang tercatat. Setelah melalui proses peralihan tersebut, Lili secara legal mengubah namanya menjadi Lili Ilse Elvenes (“Lili Elbe”). Sangat memungkinkan jika Lili juga seorang hermaprodit walaupun fakta tersebut tidak dapat dikonfirmasi.

This is the first beautiful movie that I watch this year. Along the story, we can really see the transformation and struggle that Lili and Gerda had to endure that was depicted incredibly well by Eddie Redmayne. This movie will not only drag you to understand and feel what Lili had to go through but also Gerda and how her emotions went up and down along the way. 

Film ini merupakan film terindah pertama yang saya tonton tahun ini. Sepanjang cerita, kita dibawa larut untuk merasakan proses perubahan dan perjuangan yang harus dihadapi Lili (yang diperankan dengan sempurna oleh Eddie Redmayne sebagai Lili). Film ini tidak hanya akan memaksa Anda untuk mengerti dan memahami segala hal yang harus dilalui Lili, tetapi juga Gerda dan bagaimana perubahan emosi Gerda yang naik turun sepanjang cerita. 

The reason why I am thinking to write the review of this movie is to answer the LGBT issues that brought up by some Indonesian people recently that I follow through the media. Most people are still cursing them and see it as a torment and sin.

Salah satu alasan mengapa saya memilih untuk menulis ulasan mengenai film ini terutama karena isu LGBT yang akhir-akhir ini diangkat oleh teman-teman saya di Indonesia. Sebagian besar orang Indonesia masih mengutuk dan menganggap LGBT sebagai kutukan dan dosa besar. 

If (by some miracle) this movie can be screened in Indonesia, I would deeply hope it could help people in Indonesia to understand the LGBTs better. Hoping that for once you would want to understand what the LGBT people have to go through in their lives. The confusion and struggle that they have to fight within themselves, also the prejudices that usually come from the society.

Jika (dengan segala keajaiban) film ini dapat ditayangkan di Indonesia, saya sangat berharap bahwa film ini akan membantu orang-orang Indonesia untuk memahami kaum LGBT dengan lebih baik. Berharap untuk sekali Anda mau membuka diri untuk mengerti apa yang orang-orang LGBT harus lalui dalam hidup mereka. Kebingungan dan perjuangan yang harus mereka hadapi dengan diri mereka sendiri, juga segala prasangka yang ditujukan pada mereka.

It is sickening me when sometime the people who considered themselves religious believe that they could speak on behalf of God and act as if they are: judging, punshing, and tormenting people. I do hope that one day I could live in the world where people can open their mind and heart to accept others for who they are.

Apa yang paling membuat saya muak adalah bagaimana orang-orang yang menganggap diri mereka beragama merasa bahwa mereka bisa bicara atas nama Tuhan dan bertindak sebagai Tuhan dengan menghakimi, menghukum, dan menyiksa orang lain yang tidak sepaham dengan mereka secara fisik dan moral. Saya bermimpi jika suatu saat nanti saya akan berada di dunia di mana orang dapat membuka hati dan pikiran mereka untuk menerima orang lain dengan segala keterbatasan mereka.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s