Untuk anak-anak gadis kami / To our little girls

michael-courier-rape-culture

Courtesy: revolar.com

We know her as Yuyun. A fourteen year old teenage girl who was killed and whose body was disposed to the cliff after being raped by fourteen men. Not many tells the bitterness of growing up as a teenage girl in this country.

Kami mengenalnya dengan nama Yuyun. Remaja perempuan berusia 14 tahun yang dibunuh dan dibuang ke jurang setelah diperkosa beramai-ramai oleh 14 orang pria. Tak banyak yang mengisahkan pahitnya tumbuh menjadi remaja perempuan di negeri ini.

Every time a rape case happened, everyone eyed wrongfully to the girls. It is our fault to leave the house alone. It is our fault to dress in an inappropriate clothes (even though I still haven’t fully understood what is inappropriate with school uniform).

Setiap kali kasus perkosaan terjadi, semua mata memandang salah pada sang perempuan. Salah kami karena pulang pergi sendirian. Salah kami karena memakai baju yang tak pantas (walaupun aku masih belum mengerti apa yang tak pantas dari seragam sekolah).

We grew up to see our body as something lewd, that always invite men to think erotically. We are not raised to understand that women are also creatures with free will to decide what and how we want to live our lives. If we are groomed to be a subject of shame for having sexually inviting bodies, then the boys are groomed to see their opposite sex’s bodies as something desirable. 

Kami tumbuh besar untuk melihat bahwa tubuh kami adalah barang kotor yang selalu mengundang berahi para lelaki. Kami tak dibesarkan untuk mengerti bahwa wanita juga adalah makhluk berkehendak bebas untuk mengatur cara dan jalan hidup kami. Jika kami dibesarkan untuk tunduk malu karena memiliki tubuh yang menggoda. Maka anak laki-laki kami dibesarkan untuk melihat tubuh lawan jenisnya sebagai hal yang menggiurkan.

In a case as what was experienced by Yuyun, it seems like everyone forgets what is the real root cause of this problem. All eyes on us, the girls. From the media to the judicial process. Minimalist dress, seducing behavior, to alcohol are at fault. 

Saat kasus seperti yang dialami Yuyun terjadi, semua seolah lupa akan apa yang sebenarnya menjadi akar pokok permasalahan. Pandangan diarahkan pada kami, perempuan. Dari media hingga proses peradilan. Busana minim, perilaku menggoda dari korban, hingga alkohol.

When everyone is busy pointing their fingers to us as women, we were immersed in self-blame while trying to find an answer to the question, “Why us?”

Saat semua orang sibuk mengarahkan telunjuk pada kami sebagai perempuan, kami pun larut terbenam menyalahkan diri sambil berusaha mencari jawab atas pertanyaan: “mengapa kami?”

We are grown in a culture where the very nature of women are always under the men. Women are only accessories to their men. Feeble creatures in the patriarchal society. The overbearing pride from thinking that men are the only creature with the will and ability to dominate. They are high in a poison called testosterone.

Kami dibesarkan dalam budaya di mana kodrat perempuan berada di bawah laki-laki. Perempuan hanyalah asesoris bagi lelaki. Makhluk lemah dalam dominasi patriarkal. Keangkuhan karena merasa hanya merekalah makhluk yang berkendak dan mampu mendominasi. Mereka terbius akan racun testosteron.

Our parents choose to remain silent when we approach to tell them what happened to us. The feeling of embarrassment takes place for their tainted little girls. The law is not even helping us since we live in the patriarchic law.

Orang tua kami memilih diam saat kami menghampiri untuk menceritakan apa yang terjadi pada kami. Rasa malu yang mendominasi karena anak gadis mereka ternoda. Hukum pun tak banyak membantu karena kami hidup dalam hukum patriarkis.

No one remembers the importance of sex education. All porn films are banned, no adults is willing to explain the difference between the sexual intercourse where the women consent and act based on their will or they are under-age teenagers who were under drug influence.

Tak ada yang ingat akan pentingnya edukasi seksual. Semua film porno dilarang, tak ada orang dewasa yang berniat menjelaskan perbedaan hubungan seksual di mana sang perempuan dewasa setuju dan berkehendak tanpa paksaan atau hanya bocah di bawah umur yang berada dalam pengaruh obat-obatan.

I hope that Yuyun’s death will be able to remind us to start questioning the important questions about how men and women are, including their desires to be placed properly before the law and cultures in this country. That in principle, we all know that we still live in a destructive hypocrite society, with the behaviors that are strongly associated with sexism and biases toward unfair masculinity.

Semoga kematian Yuyun mampu mengingatkan kita semua untuk mulai mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan besar tentang bagaimana pria dan wanita termasuk hasrat dan kehendak mereka didudukkan dalam konteks yang tepat di hadapan hukum dan budaya negeri ini. Bahwa pada dasarnya kita semua sudah tahu bahwa kita masih hidup dalam budaya yang sarat akan tindakan-tindakan sok suci yang destruktif. Sikap-sikap yang masih terjalin erat dengan seksisme dan bias-bias maskulinitas.

Yuyun, please forgive us for we haven’t been able to see what happened to you as a tragedy that needs to be settled. Instead of just another statistics of sexual violence towards our girls that we soon will forget in a day or two. 

Yuyun, maafkan kami yang belum mampu melihat apa yang terjadi padamu sebagai sebuah tragedi yang butuh penyelesaian. Bukan hanya sekedar statistik lain atas kekerasan seksual terhadap anak-anak gadis kami yang akan kami lupakan dalam satu dua masa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s